Ketika bertahun-tahun berjibaku dengan kesakitan yang serasa takkan pernah terobati, rasanya sia-sia mencoba kembali meretas mimpi-mimpi baru. Kalaupun asa itu hadir barang sejenak, tapi tak ubahnya hanya sebuah asa yang tak ada ujungnya. Semua seolah tlah hilang dibawa semua rasa sakit waktu itu yang terus membekas sampai saat ini. Hanya terpisah darinya membuat semua selir hati ikut musnah bersamanya. Tak ada lagi pengisi kekosongan jiwa. Semua meninggalkanku tanpa meninggalkan setitikpun kepastian tentang aku, dia, kita dan mereka. Yang ditinggalkan mereka hanya kehampaan yang mendalam.
Rasanya sebuah kesalahan hendak memilih jalan baru untuk seutas mimpi baru. Semua dipandang salah hanya karena berbeda fikir.
Tapi biarlah, imaji selalu tampakkan keindahan baru di depan mata. Semuanya kan indah pada waktunya.
Saat semua terasa begitu mudah, saat semua terasa indah, ketika seseorang datang, tanpa prasangka, tanpa rasa, tanpa semuanya, bodohnya hari merasa ada sinyal lain. Bukan sebagai rangkaian mencari-cari, tapi rasa nyaman hati telah menggerogoti semuanya. Rasa hampa yang kuasai semua raga, seperti mimpi, sebagian darinya sirna oleh hadirnya. Entah mengapa ada semburat kebahagiaan di balik punggungnya. Ada tutur lembut yang tersimpan di balik suara suram bassnya. Ada kehangatan di balik sikapnya yang selalu dingin. Kadang jenuh hanya bisa melihatnya dari jarak yang tak terlampau jauh, tapi tak sanggup berbuat apapun. Hanya melihatnya tak lebih. Tak ada keberanian sedikitpun yang tesimpan di balik hati. Rupanya, hati masih terlalu takut untuk merasakan sakit yang sama seperti waktu itu. Bukan hal yang mudah mencari kekuatan baru, meski raga sangat ingini hal itu.
Kini, rasa nyaman itu hampir sempurna brubah menjadi rasa takut. Takut rasa nyaman itu akan berubah lebih, takut ketika harus menghadapi kesendirian lagi ketika berlebihan itu tak berakhir benar. Takut semua akan berakhir tanpa ada keindahan dan kebahagiaan yang sebelumnya mengisi hati barang sejenak. Sejenak, hati memohon ijin, tapi alam bawah sadar terus menolaknya. SEdikitnya ingin menjadi sesuatu yang baru dalam hidup. Memiliki ruang dalam hidupnya, bukan meminta prioritas atas dirinya. Tapi berkali-kali alam bawah sadar selalu mengingatkan dan memberikan pandangan jelas bahwa hanya sakit yang akan ku rasa.
Melihatnya selalu, hanya itu yang bisa ku perbuat. Bisa apa lagi?? Terlalu tebal penghalang di hadapannya yang memisahkan ia dari segala macam tetek bengek sebuah kisah. Terlalu banyak filter yang dia pasang demi menjaga hatinya sendiri. Terlalu rapat ia menutup hatinya sampai siapapun tak dibolehkannya masuk kecuali yang memang tlah terbiasa ada di sekitarnya. Salahkah jika ingin sedikit saja ruangnya?? Dan disinilah, pada akhirnya aku harus sadar, menginginkannya memberi ruangnya hanya sebuah mimpi yang entah akan berwujud atau tidak. Sampai pada saatnya, di sini akan selalu melihatnya tanpa lelah. Tak berakhir indah pun tak apa, ketika hati tlah puas dengan semua rasa. Biarkan aku sampai pada waktu nanti menjadi penikmatmu dan melihatmu selalu..
Sekedar Bercerita....
Diposting oleh
metrika
at
Minggu, 28 Maret 2010
Label: alkisah , cerita pendek

0 komentar:
Posting Komentar or Reply Comment