Pergulatan batin kala itu tak pernah terpikirkan sebelumnya. Orang baru yang lama datang tiba-tiba membuka memori baru. Memori yang hampir-hampir bisa musnah. Orang yang berbeda namun memberikan "sesuatu" yang sama. bukan tak mungkin "sesuatu" itu suatu saat akan menjadi bumerang. Ia memang bukan pengganti. Tak akan terpungkiri jika yang lalu takkan pernah terganti.
Orang lama itu bukan hadir dengan disengaja. Hati yang dulunya memang terbiasa tak pernah menolak. Saat itu tak terasa ada apapun. Karna memang tak terasa barang sedikitpun. Bodoh. Ketika memang telah terbiasa, tiba-tiba ada aliran listrik yang menyengat ketika dekat dengannya dalam radius terjauh. Dulu pernah seperti itu, tapi alir kejutnya tak seheboh ini. Dalam kurun waktu yang lama, pertanyaan apa, siapa, bagaimana, kapan, mengapa, dimana selalu berputar-putar tanpa lelah.
Ahh.. Saat itu hendak menghibur diri dengan mengatakan kepada hati bahwa ia masih seperti yang dulu. Biasanya itu berhasil untuk menghalau aliran berbahaya itu. Perasaan tak normal selalu hadir ketika melihat ia berbagi senyum dengan yang lain. Cukup! Harusnya senyum itu hanya untukku! Itu kataku dalam hati. Tapi aku bisa apa. Toh dia tetap orang bebas. Begitupun aku. Aku tahu ada seseorang yang mengisi hatinya ketika aku "hilang". Dan entah sampai kapan itu akan tertinggal di sana. Aku pun sama. Orang-orang baru dengan rasa baru hilir mudik dan aku tak menghalaunya. Ku biarkan semuanya tetap seperti sedia kala. Tapi sedikit banyak hati mulai tergerak untuk menoleh padanya.
Sampai pada suatu saat, tak tahu kerasukan dari mana, tiba-tiba ingin selalu ada diantaranya. Dasar hati tak tahu diri, sudah cukup berada diantaranya, kok malah pingin lebih. Bukan memilikinya, tapi hanya ingin sedikit ada aku disetiap langkahnya. Dasar! Ia datang di saat yang tepat. Di saat aku berada di antara gamang yang luar biasa, di saat sesuatu yang tak menentu sedang berada di ambang kebencian, ia datang dengan angkuhnya. Ahh... ia bernar-benar membuat hariku semakin acak kadut. Ia berada di waktu dan tempat yang tepat. Sial! Padahal aku tahu di dalam hatinya ada orang baru, dan di hatiku pun sama.. Akankah saat itu hanya akan menjadikannya bak penampungan keluh kesah tanpa ada hati?
Tapi semakin hari kilatan tak berkesudahan itu tak kunjung usai menyambar. Malah semakin besar adanya. Bukan tak ingin menjadikan lebih, tapi waktu itu hanya takut. Tak lebih. Khawatir kalau-kalau pada akhirnya hanya akan saling menyakiti dan tersakiti. Dan ketika itu terjadi, bisa terbayangkan hasil buruknya. Hanya akan tersakiti dan merasa sendiri. Tapi rupanya ia merasakan hal yang sama (mungkin). Ingin ... tapi tak tahu meletakkan hati yang benar itu dimana..
Ya sudah.. karena sama-sama tak tahu, kenapa tak disatukan saja tak tahu itu. Biar sama-sama jadi tahu. Suka cita bersama-sama ia tak pernah terlupakan pada akhirnya. Meski kadang berfikir bahwa tak sesuai harapan, tapi ya tak apalah. Toh memang pada akhirnya hati ini telah memihaknya sepenuhnya. Sedikit demi sedikit mulai yakin memang ia yang tepat menjadi "sesuatu" bagiku. Memang tak ada yang sempurna di dunia ini, tapi perkenankan jika ada sedikit suka cita meraih dunianya. Ia memang tak seindah masa lalu, tapi yakin! hanya tinggal menunggu waktu membuat semuanya indah dan pasti akan jauh.jauh.jauh.jauh.dan jauh lebih indah dari yang pernah ada. Ia dan kenangan lalu tak bisa dipisahkan dan memang tak dapat terpisahkan. Tapi yakinlah. Posisinya tak menggantikan siapapun. Karena ketika ia menggantikan, ia pasti akan tergantikan suatu saat. Dan ia dan siapapun yang lain adalah manusia-manusia yang berbeda. Ketika akan menggantikan berarti sama saja dengan menyamakannya dengan yang lalu. Dan aku tak ingin itu. Ia mengisi ruang kosong yang telah lama hilang dan kosong itu. Ruang yang memang sedianya hanya dia yang berhak mengisinya.
Ia memang bukan yang terbaik, tapi ia selalu menjadi yang terbaik dalam hatiku.
Ia memang bukan yang sempurna, tapi ia bisa menyempurnakan hari-hariku.
Ia tetap ia yang kadang menjengkelkan, membuat hati merasa diacuhkan. Tapi sadar tak sadar, dia yang juga turut memberikan sumbangsih besar terhadap perubahanku kini. Dulu, di waktu yang lalu, ia telah memberikan sentuhan magicnya tanpa ia dan aku sadari. Ketika kini teringat semua yang dulu-dulu terjadi menjadi sangat jelas terlihat. Ya! Aku menyayanginya dari dulu. Jauh sebelum hatiku carut-marut terlalu dalam. Ya! Ia sudah mempunyai tempat tersendiri dalam hatiku. Bahkan jauh sebelum aku menyadarinya.
Tak tahu kelak akan menjadi apa? Tapi yang jelas, perkataannya memposisikan aku di sebelah kirinya itu sedikit banyak membuatku lega. Entah akan melaju sampai ke sana atau pun tidak, Tuhan pasti mempunyai jalan cerita sendiri. Cerita yang memang dipersiapkan untukku dan untuknya.
Aku menyayanginya. Sungguh.
Semoga semua yang terjadi dan akan terjadi kelak akan indah.
Harapan Baru...
Diposting oleh
metrika
at
Senin, 06 Desember 2010
Label: alkisah , cerita pendek

0 komentar:
Posting Komentar or Reply Comment