Rasanya sedikit aneh. Ketika sudah begitu lama tak memberikan sentuhan tangan untuk beberapa lingkungan yang sebenarnya mengganjal hati. Canggung. Iya. Ya sudahlah. Berfikir saja kalau memang seperti yang sebelumnya. Tak ada yang akan merespon, setidaknya daripada menjadi ganjalan hati kemudian akan menggerogoti hati. Kalau berubah menjadi penyakit hati kan repot. Ya ini lah… Keluh kesah saya tentang rutinitas saya bertemu yang aneh bernama dosen.
Sebenarnya dosen sama sekali bukan menjadi momok bagi saya. Terserah ya.. Mau killer atau apapun jenis sebutan bagi makhluk bernama dosen. Bagi saya gak begitu terpengaruh. Yaaa… Paling nggak, saya nggak begitu sering berinteraksi dengan mereka. Bahkan di kotak semen itu. Menjadi mahasiswa yang tak menonjol diantara satu angkatan yang jumlahnya beribu-ribu itu setidaknya semakin membantu untuk tidak berinteraksi dengan mereka secara rutin seperti orang kecanduan yang selalu “butuh”. Mungkin “mahasiswa” yang sebenarnya akan menghujat saja bla bla bla karena pemikiran saya itu. Saya semakin tak mempunyai alasan karena saya melihat dengan ada sesuatu yang lain dari interaksi mereka itu. Sering saya menilai dengan kata-kata busuk lah, tua lah, atau hujatan-hujatan lain versiku. Aku benar-benar tak mengerti, apa fungsi mereka setiap hari setiap selesai kuliah, berbondong-bondong ke meja dosen, bertanya bla bla bla tentang bla bla bla dan itu dilakukannya setiap hari. Apa untuk setor muka,,, ya paling nggak biar pak bu dosen itu mengingat dengan jelas wajahnya dan kalau sudah ingat, nanti kan di kelas bakal di sebut-sebut terus, kalau sudah di sebut, kesempatan buat ngasi komentar tetang materi yang disampaikan lebih besar, nah kalau gitu kesempatan buat nyandang A yang terhormat itu semakin besar pula. Oh iya ya.. bias juga seperti itu… Hahahaha.. pemikiran luar biasa dari saya.. kikikikiki….
Yang saya anehnya, ternyata kadang pendapat saya yang tak jelas itu terbukti lhooo.. Tanpa menyebutkan nama, sebut saja Bu R, kok ya memang seperti itu ya… Memang sih berkali-kali dia berkilah kalau itu tak ia lakukan. Setiap ada waktu, ia selalu menyanggah itu. Yaahhh.. terserah lah bu ya... Ini pendapat saya saja sih. Ya memang seperti itu. Kadang nama-nama yang selalu disebut di sepanjang pelajaran (halah.. kaya’ masih SMA saja) kadang membuat saya muak. Kalaupun memang tidak, ya kok ya mainset kita diarahkan ke sana. Kotak-kotak itu besar sangat dirasakan. Teman-teman yang seperjuangan dengan saya pun merasakan hal yang sama kok. Seolah-olah untuk merasakan hal yang “the real kuliah” harus melakukan hal yang sama sih. Memangnya tanpa kotak yang bernama BEM atau HMJ berarti yang di luar kotak disisishkan saja? Ohh.. No… Saya lebih suka berada di UKM saja yang tak hanya sekedar bicara, tapi action.. hahaha… Maaf lho yang ada di kotak itu… HIhihihi…
Yah.. karena sudah menyinggung kotak BEM dan HMJ sekalian saja ya… ini uneg-uneg saya menjelang masuk semester 4. Hmm… Sebenarnya sumpah saya sangat menghargai orang-orang yang ada di sana. Setidaknya pada awalnya. Hanya saja saya melihat kotak itu akhirnya mengkotak-kotakkan mahasiswa itu yang sebenarnya tak begitu saya suka. Yah.. apa pengaruh saya suka atau tidak? Hahahaha.. Dan kesenjangan itu yang benar-benar saya rasakan. Kebijakan jurusan yang akhirnya bisa difleksibelkan karena menjadi bagian dalam kotak itu. Jadi pada waktu itu sudah ada pengumuman tentang konsentrasi. Pilihan konsentrasi itu ada ketika kita baru semester 2. Dan tidak ada pengumuman kapan waktu untuk berubah pikiran. Dan saya salah satu orang yang berubah pikiran ketika itu. Saya hanya suka menulis dan fotografi. Hati saya versi semester dua memilih Audio Visual sebagai konsentrasi yang beruntung itu. :p . Tapi setelah saya menjalani semester 3 dan setelah diberi gambaran oleh beberapa kakak tingkat, sepertinya hati saya mulai membela Jurnalistik. Tetapi karena tak tahu harus lapor kemana, ya sudah saya diam saja dulu. Kebetulan HMJ mengadakan pemantapan konsentrasi dan akhir acara yang TERNYATA menjadi tempat berubah pikiran tak bias saya ikuti karena ada satu mata kuliah yang mengadakan UJIAN pada saat yang sama. Dan mohooooon maaaaaaaafff sekali tak ada pemberitahuan kalau itu akan berpengaruh ke konsentrasi yang ditentukan jurusan. Siallll…. Kalau anda menjadi saya anda akan protes kan? YA! Saya melakukan itu. Saya dengar konsentrasi itu bias berubah KALAU ada orang yang mau berubah juga di konsentrasi yang kita tuju mau untuk “ijol-ijolan”. Saya mati-matian mencari orang yang mau berubah itu. Awalnya ada. Tapi akhirnya mereka menyerah karena keRIBETan itu. Pada waktu saya menghadap ke Ketua Jurusan, beliau bilang saya bisa berpindah konsentrasi tanpa ada tumbal karena melihat dari nilai saya. Dapat pencerahan dooooong… Ealah ketika berada di depan sekretaris jurusan kok tidak bisa ya.. Saya diharuskan mencari tumbal itu. Siaallll.. Ini maksudnya apa?? PAda saat itu saya sempat sudah ingin mengakhiri saja. Ealah kok teman yang saya kenal secara tidak sengaja menceritakan kalau dia bisa pindah konsentrasi tanpa tumbal. Dan itu sudah di acc sekretaris jurusan. Saya disemangati untuk melakukan lagi tapi dengan embel-embel “JANGAN BILANG SAYA YANG CERITA KE KAMU YA? DAN JANGAN BILANG NAMA SAYA!!” Aneh lagi nih… Tapi saya lakukan itu. Dan pretttttt…. Saya tak bisa mendapatkan hal yang sama. Dan yang dikatakan oleh sekretaris jurusan adalah, “MANA ADA MBAK? KALAU PUN ADA, MANA? SURUH DIA DATANG KE SINI BILANG SAMA SAYA!!” Lak Prett aaaaaa.. Dalam hati saya menangis.. Lak kepet a ancen wong wong iki… Siaaaaalll… Usut punya usut beberapa orang memang bisa berpindah konsentrasi karena menjadi anggota kotak itu. Termasuk teman yang tak sengaja tadi.
Hahhhh… keluh kesah ini berakhir di sini dulu.. nanti pasti berlanjut.. Karena banyak yang ada di kepala yang jadi esmosi ,….
Sekian..
Sampai nanti sampai mati…
Kita akan bertemu lagi di ruang rindu…
cerita tak bercerita... hanya biar tak jadi emosi sendiri.. episode 01
Diposting oleh
metrika
at
Rabu, 14 September 2011
Label: cerita dan keluh kesah

0 komentar:
Posting Komentar or Reply Comment