Ketika menjalani masa perkuliahan,, rasanya sama sekali tak ingin merubah diri dengan tetek bengek yang berhubungan dengan aksesoris yang berlabel mahasiswa. Diluaran sana wanita-wanita yang punya masa aktif sebagai mahasiswi, aku melihat mereka berbeda denganku. Ah.. lebih tepatnya aku yang berbeda dengan mereka. (mataku melihat mayoritas). Dan yang mungkin menjadi salah satu identitas mahasiswi adalah tas kelek (baca: ketiak - yang kalau bawanya cukup "digepit" di ketiak saja cukup .. :) ) .. Dulu pernah ada seorang teman yang sengaja memberikan hadiah (setelah kembali sejenak dari perantauannya) sebuah tas ketiak buesaaaarrr warna biru. Lucu sih warnanya.. Tapi bentuknya itu lho.. Oh megot.. Ibu liat tasnya senyum-senyum, apalagi ngeliat aku make itu... waaaooooowwwww... apa bentukku nanti.. :) hihihi...
Dan alhasil, saya tak cukup iman untuk memakainya.. Saya tetap memakai tas superbuluk saya.. hihihi.. Lambat laun, saya melihat teman-teman saya yang awalnya memakai ransel, merubah diri memakai tas ketiak lagi.. ish ish ish... Salah satu Identitas seorang mahasiswi adalah tas itu.
Setelah berjalan begitu lama,, dan aku semakin tak peduli dengan hal itu, kok ya'o teman-teman saya yang sudah menjadi ibu rumah tangga, karyawan, mahasiswi, pengangguran, dan profesi-profesi lain, tiba-tiba bertemu kembali.. wuisssssss... semuaaaaannnyaaaaaaa sudah pake tas model seperti itu.. wao wao wao... Karena saya bukan tipe orang yang mengikuti mode (ndak kuat juga kalo harus ikut-ikut terus... hihihi...), aku pun nggak peduli. Dan yang bikin saya senewen adalah orang-orang terdekat saya mulai protes. Katanya sudah bukan masanya lagi saya memakai tas seperti itu (sekedar memberitahu bahwa tas yang saya pakai adalah tas ransel warna hitam yang biasanya dipake anak sekolahan laki-laki, tapi bukan yang bermerek hiking-hiking'an)... Dalam hati saya berkata, "aku lho ndak reken.. hahaha.." Dihadapan mereka aku cuma senyum-senyum saja.
Yang membuat saya bertanya-tanya adalah haruskah seorang perempuan itu dinilai dari tasnya juga?? Astaga!! Setelah aksesoris, atribut, dan embel-embel lainnya, sekarang bentuk tas juga diatur?? Wah.. saya yang ndak kuat kalo gitu.. Kalau jadi perempuan harus ada Standart Operasional Prosedur (SOP)nya dan seolah-olah ada di antara sebuah pekerjaan, aku lak dipecat terus...?? hahaha.. Maless yoo.. hehehe...
Ya sudah.. saya ingin menjadi diri saya sendiri saja.. Dengan tas ransel warna hitam saya. Tak peduli orang mau melihat seperti apa? Yang penting saya bisa tenang berada di jalan hidup saya.. hihihi.. Saya senang saya senang saya senang... :)
Sampai nanti sampai mati... :p
Hanya tentang Tas Ransel Hitam di Masa Kuliahku
Diposting oleh
metrika
at
Jumat, 23 September 2011
Label: alkisah , cerita dan keluh kesah

0 komentar:
Posting Komentar or Reply Comment