ketika suatu hari menjadi biasa. yang sebelum-sebelumnya berjalan tanpa prasangka. menoleh kesana kemari tak berarti. peka telinga melebihi suara bermil-mil jauhnya. ada yang protes? pasti. tapi apa peduli. normal. tak normal ketika yang di depan adalah asa yg beranjak dari kursi nyamannya. bagaimana bisa ia ingin pergi padahal tak sedikitpun merasa ada yang telah tumbang dan mengejutkan siapapun.
Emosi. salahkah?
ketika yang ada hanya benar dan salah, pasti terjawab salah. empati. itu kuncinya. kalau merasa sendiri.. tak apa toh juga tak benar-benar sendiri. hanya tak bisa berempati pada keadaan. Sudah waktunya menahan. mendengar. merasa. bahkan menjadi. kaki sudah tak sanggup melangkah sendiri. buat apa punya kaki yang di bangun sejak kita masih belum bisa bicara. lepas dari jenjang-jenjang itu, selalu mengagung-agungkan. iya. memang yang telah hilang, justru ia lah yang terpenting sebenarnya. tapi sebenarnya mereka nyata. semakin kita mengingat, semakin mereka lupa. semakin kita tak mau melepas mereka, semakin mereka menjauh dan mencari kita-kita yang lain. aku tak sepenuhnya percaya itu. jenjang terakhirku sebelum ini memang tak semuanya bercerita tentang permen coklat, manis pahit. tapi disanalah aku tahu tentang aku. seberapa mereka lupa tentangku, tak peduli. tetap saja masih berbelok pada mereka. lewat jalur apapun, rajutan ingatan mereka tentang mereka dan aku akan menjadi satu permainan puzzle yang akan terselesaikan.
Emosi. ketika sudah susah payah harus terpekur melihat cacian, mendengar makian. mana mungkin aku peduli kalau bukan tentangku. salah? ketika sedikit saja menuntut empati. salah juga? bukankah tak seimbang? memberi empati kesana kemari tapi tak diberi hal yang sama. mendengar macam-macam tapi tak bisa mendengar apapun. memang bodoh selalu merasa bersama-sama setiap saat. ahh.. hanya status yang dibuat-buat. benarkan?? itu hanya sebagai penjatidirian saja mengatakan status a-lah, b-lah. z-lah. yang ada hanya kepura-puraan. pura-pura simpati. pura-pura sahabat sejati. pura-pura belahan hati. ngomong sama tangan!!!
Membuat diri jadi terlihat putih itu mudah. Mencari-cari warna hitam di orang lain itu gampang. lakukanlah terus menerus. niscaya yang akan didapatkan adalah kemunafikan.
Pelajaran berharga. hargai orang lain layaknya kita ingin dihargai. dengarkan orang lain sebelum berbicara tanpa henti. masuki hati orang lain, mengertilah, sebelum meminta orang lain mengerti. dan satu hal. orang lain itu juga punya hati yang mudah merasa tersakiti dan rapuh. sama sepertimu...!!!!
1.23 ... 19.03
Diposting oleh
metrika
at
Minggu, 24 April 2011
Label: alkisah , cerita pendek

0 komentar:
Posting Komentar or Reply Comment